Saya mendapat pesan Whatsup bahwa H. Hasudungan wafat pukul 03.00 Minggu 8 Februari 2026. Ia lahir tahun 1963 dan tahun 2026 ini usianya genap 63 tahun. Nabi Muhammad Saw pun meninggal diusia 63 tahun, ini sesuatu bertanda baik, apalagi wafatnya di bulan Sya’ban, dimana amal manusia diangkat kepada Allah Swt.
Saya mengenal Hasudungan bukan hanya sebagai seorang senior, tetapi sebagai sosok yang hadir dalam perjalanan hidup dan proses belajar saya.
Pertama kali kami bertemu saat aktif di organisasi Himpunan Pengusaha Muda (HIPMI), kemudian bertemu lagi dalam organisasi Kamar Dagang dan Industri (Kadin), berlanjut ke jajaring pertemanan kader partai, dan terakhir kami berkumpul lagi sebagai Staf Khusus Bupati Tanah Bumbu 2021-2024. Tentu ini merupakan perjalanan panjang yang tidak semua orang berkesempatan mengalaminya.
Beliau memang seorang aktifis, selalu menyampaikan ide dan gagasan dalam setiap pertemuan, dan sering kali menjadi penyeimbang dalam perbedaan pendapat.
Namun yang paling berharga bagi saya justru percakapan-percakapan sunyi, pesan dan nasehat tentang peluang, politik, dan kerasnya realitas kehidupan, ya kami berdua bercerita dalam sunyi dan rahasia, dan menyimpan percakapan kami rapat-rapat, untuk bekal masa depan.
Dalam beberapa kesempatan, Kakanda Hasudungan juga selalu mengingatkan tentang arti kebersamaan atau kesetiakawanan bahwa sejauh apa pun kita langkah, kebersamaan sebagai teman harus tetap dijaga.
Saya termasuk sangat junior di antara kawan-kawan beliau, meski demikian ia tetap ingin sama rendah ataupun sama tinggi. Ia tak mau dipanggil Om apalagi Bapak, ia cuma mau dipanggil Kanda saja. Panggilan ini membuat kami selalu dekat.
Selamat jalan, Kakanda ulun H. Hasudungan. Bagi saya, Pian adalah sosok Kakanda penjaga kebersamaan, juga salah satu tokoh Penuntun Tanah Bumbu.
Kami sebagai junior akan berusaha melanjutkan semangat perjuangan pian, membangun Tanah Bumbu yang lebih maju, dan tetap menjaga kebersamaan.








