JAKARTA, Ringsatu.co.id – Pengamat menilai kerja Presiden RI Prabowo Subianto-Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam 100 hari kerja belum memberikan kepuasan masyarakat. Mulai dari kabinet gemoy sampai kebijakan pangkas anggaran kabinet.
Pengamat Politik dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Lili Romli mengatakan bahwa masalah ketersediaan anggaran akan menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintahan Prabowo dan Gibran untuk merealisasikan program-program yang sudah dijanjikan pada saat masa kampanye.
Dilansir dari Bisnis.com, Selasa, 28/1/2025, Lili Romli juga menilai koordinasi yang tidak mudah antar menteri karena birokrasi Kabinet Merah Putih gemoy, beban bayar utang warisan Jokowi, masalah kemiskinan, pengangguran, dan kekuatan oligarki.
Akibat struktur Kabinet Merah Putih gemoy, berimbas pada kerja tidak efektif dan efisien, apalagi program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Belum lagi kasus kepailitan Sritex dan polemik pagar laut tak bertuan di perairan Tangerang, menjadi salah satu contoh ketidaksinkronan koordinasi antar Kementerian.
Sementara itu, Pengamat Politik Algoritma, Aditya Perdana memandang bahwa tantangan utama untuk Prabowo-Gibran adalah mengenai birokrasi gemoy dan tidak bisa bergerak lincah.
Mengharapkan birokrasi lincah dengan gaya kepemimpinan Prabowo, menjadi tidak mudah dan memerlukan waktu lebih panjang.
Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah menekankan bahwa pada 100 hari pertama Prabowo bekerja, sebagian besar dilalui hanya untuk sinkronisasi jabatan di kementerian, sehingga nyaris tidak bekerja secara praktis dan membuang waktu.
Dedi mengungkapkan bahwa hal-hal yang perlu diselesaikan oleh Prabowo dalam waktu singkat adalah sinergitas antar kementerian, efisiensi anggaran, dan kinerja tim solid.
Sejauh ini, Dedi merasa tim Prabowo tidak mengesankan hal itu. Sementara itu, pengamat politik dan Founder Lembaga Survei Kedai KOPI, Hendri Satrio mengaskan bahwa tantangan paling utama bagi Prabowo adalah berkaitan dengan anggaran.
“Beberapa kali Pak Prabowo bicara tentang uang kan. Negara ini gak punya duit. Sampai terakhir dia bilang harus ada penghematan, karena tadi program-programnya kebanyakan spending-nya gitu,” ujarnya, Selasa (28/1/2025).
Berbeda dengan pengamat politik Adi Prayitno, ia menilai koordinasi dan birokrasi antar lembaga telah berjalan cukup bagus. Hanya saja dia masih mencatat persoalan dari sisi anggaran.
“Misalnya soal makan bergizi gratis anggarannya masih diupayakan dari berbagai sumber, termasuk program rumah 3 juta rakyat juga masih diupayakan anggarannya,” ucapnya. (MAS)











