BANJARBARU – Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Ali Masykur Musa (AMM) menitipkan 4 transformasi ISNU kepada 13 Pimpinan Cabang dan anggota se-Kalsel di Balai Diklat Keagamaan Banjarbaru, Minggu malam (20/11/2022).
Empat Transformasi tersebut, pertama, transformasi organisasi dari pribadi pekerja menjadi pemimpin yang melayani. Kedua, transformasi kemandirian, dari orientasi politik kepada orientasi pemberdayaan ekonomi. Ketiga, transformasi intelektual. Keempat, transformasi semangat memberi dan tidak lagi menerima.
Ia menegaskan, tanpa berjuang dan bersatu dalam NU maka tidak akan mampu berbuat banyak dan tidak akan sanggup melakukan bersih-bersih di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
DR. KH. Ali Masykur Musa, M.Si, M.Hum, juga Mursyid dan Pimpinan Pondok Pesantren Pasulukan Thareqat Naqsyabandiyah Khalidiyah Conded Jakarta, berharap ISNU mengambil peran masa depan memperjuangkan NU karena dalam organisasi ISNU berkumpul para intelektual yang memiliki keahlian di bidang masing-masing.
Menyikapi persoalan masyarakat Nahdliyin yang tidak sepenuhnya berada dalam harakah NU, Ali Masykur Musa memberikan arahan agar kader ISNU mengembalikan rasa memiliki terhadap NU dengan istilah ‘menjam’iyahkan NU’ karena masih banyak yang tidak berjamaah dengan NU, mengaku NU tapi masih berjamaah kepada yang lain.
Sehingga warga nahdliyin harus kembali seperti solidaritas mekanik yang menandakan NU secara organisatoris.
Kedua katanya, berfikrah secara benar sesuai dengan manhaj, akidah, tasawwuf NU.
“Jangan-jangan kita sudah menolak pendekatan Ihsan dalam agama kita,” ungkapnya.
Padahal telah diajarkan Iman, Islam, Ihsan, melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad Saw.
Sehingga aneh bila seseorang bersyariat Islam tapi tidak menerima hakekat, tariqat, dan ma’rifat, padahal itu diajarkan dalam Islam.
“Orang NU itu Iman, Islam, Ihsan, akidah, syariah, tasawwufnya adalah al-Maturidiyah,” katanya.
Kitab hukumnya dari 4 Imam Mazhab, tasawwufnya mengikuti Imam al-Gazali dan Imam Junaid Al-Bagdadi.
Ditambah etika sosial yang disusun oleh KH. Ahmad Sidiq yang terdiri dari tawassuth (sikap tengah-tengah), tasamuh (toleransi), tawazun (seimbang), i’tidal (tegak lurus). Ia berharap ISNU mengembalikan NU secara benar, kembali ke hittah nahdiyin.
Hal itu disampai dalam sambutan pelantikan 6 Pimpinan Cabang yaitu Hulu Sungai Selatan, Tapin, Balangan, Banjar, Hulu Sungai Tengah, Tabalong. Sehingga total Pimpinan Cabang ISNU berjumlah 13 kabupaten kota di Provinsi Kalimantan Selatan. Pelantikan juga dihadiri Ketua PWNU Kalsel DR. KH. Abdul Hasib Salim, dan pihak UIN Banjarmasin. (MAS)











